![]() |
| Wana wisata Rawa Bayu |
Siapa yang tak mengenal
Banyuwangi, kota dengan penuh kemistisan dan keanehan yang ada. Banyuwangi
merupakan wilayah yang terletak di ujung jawa bagian timur, diapit oleh dua
gunung (ijen dan raung) serta dua perairan (samudera hindia dan selat bali).
Banyuwangi memiliki pesona keelokan dari geografisnya, salah satunya dengan
banyaknya kawasan wisata religi dan non religi di sana. Rawa Bayu, salah satu
kawasan wisata yang sangat terkenal di Banyuwangi. Terletak di kaki gunung
Raung dan merupakan salah satu kawasan wisata yang terkenal dengan mistik dan
sejarahnya. Diapit oleh hutan dan sungai yang mengalir deras dari kaki
gunungnya. Dari namanya sendiri, Rawa Bayu merupakan sebuah rawa yang di kanan
kirinya masih banyak ditumbuhi oleh tanaman - tanaman serta terletak di dalam
hutan. Karena letaknya sendiri, kawasan ini dijadikan sebuah kawasan hutan
lindung yang dilindungi oleh pemerintah dengan bantuan beberapa masyarakat
sekitar. Selain itu, terdapat hutan produksi yang dikelola oleh masyarakat yang
disebut dengan Hutan Agroforestri. Letak hutan ini berdekatan dengan kawasan
hutan lindung, sehingga banyak masyarakat yang merasa was-was jika menanam
tanaman produksi di sana. Oleh karena itulah, pemerintah bekerjasama dengan
masyarakat sekitar dalam hal pengelolaan termasuk juga pada daerah wisata Rawa
Bayu.
![]() |
| Hutan agroforestri Songgon |
Keberadaan kawasan hutan lindung ini sangat penting
dan cukup berpotensi dalam hal penyerapan karbon. Seperti yang diketahui,
Indonesia merupakan negara dengan luas wilayah hutan ke – 3 terbesar di dunia
setelah Brazil dan Afrika. Karbon merupakan salah satu dari hasil buangan
makhluk hidup (manusia dan hewan) yang tentu saja tidak berguna bagi mereka. Dan
salah satu yang berpotensi sebagai penyerap yaitu tumbuhan yang tentu saja
memiliki proses – proses yang sangat rumit dan panjang agar dapat menghasilkan
oksigen melalui berbagai proses. Oksigen tersebut dapat digunakan oleh makhluk
hidup lainnya selain tumbuhan, sehingga keberadaan tumbuhan dirasa sangat
penting bagi ekosistem sekitar. Hutan, kumpulan dari berbagai tumbuhan –
tumbuhan dari terkecil hingga terbesar. Hutan di kawasan hutan lindung Songgon
memiliki potensi yang sangat besar sebagai penyedia cadangan karbon bagi Kabupaten
Banyuwangi dan sekitarnya. Hutan agroforestri namanya, suatu kawasan hutan yang
dapat dikelola oleh masyarakat melalui beberapa kontrak kepada pemerintah, terkhusus
PERHUTANI melalui kontrak Hak Pengelolaan Hutan (HPH). Dengan adanya HPH,
masayarakat sekitar hutan Songgon dapat beraktivitas seperti biasanya. Fungsi
alih atau konversi lahan dari kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan agroforestri
tentu saja menimbulkan beberapa perdebatan dan permasalahan, salah satunya
yaitu fungsi hutan sebagai penyedia cadangan karbon. Namun, pengelolaan hutan agroforestri
yang baik dan benar dapat meningkatkan kapasitas penyediaan cadangan karbon hutan.
Tabel 1. Total biomassa
antar stasiun
Seperti yang terlihat pada data di atas, hutan
sekunder/lindung memiliki nilai tertinggi jika dibandingkan dengan hutan agroforestri.
Hairiah, dkk (2011) menjelaskan bahwa lahan yang memiliki kesuburan dan tingkat
kealamian yang lebih tinggi akan memiliki jumlah cadangan karbon yang lebih tinggi.
Hal tersebut sesuai dengan hasil yang didapatkan pada penelitian. Dapat
diartikan bahwa hutan sekunder memiliki tingkat kesuburan dan tingkat kealamian
yang lebih tinggi dibanding dengan lokasi lainnya. Agroforestri mahoni memiliki
jumlah cadangan karbon yang lebih tinggi dibanding agroforestri pinus. Ini
menunjukkan agroforestri mahoni memiliki tingkat kesuburan serta kealamian yang
sedikit lebih tinggi dibanding agroforestri pinus Namun, hal tersebut tidak
menjadi permasalahan yang cukup serius, total biomasssa pohon dan serasah pada
hutan agroforestri lebih tinggi dibandingkan dengan hutan lindung. Keragaman
spesies yang sangat kurang serta pengaruh akibat dari konversi lahan, membuat
hutan agroforestri memiliki total biomassa yang lebih sedikit dari hutan
lindung. Terkait dengan tingginya total biomassa pohon dan serasah, hal
tersebut dapat menunjukan bahwa hutan agroforestri masih memiliki potensi yang
sangat tinggi dalam melakukan penyerapan karbon emisi. (gpw)
Sumber:
Hairiah K., Ekadinata A., Sari RR., Rahayu S. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon Dari Tingkat
Lahan Ke Bentang Lahan Edisi Kedua. World Agroforestry Center. Bogor.
















