Thursday, August 4, 2016

Lombokku Sayang, Lombokku Malang.......

Lombok, pulau yang hingga saat ini dijuluki sebagai negeri seribu masjid. Pulau yang mendapat predikat sebagai kawasan wisata halal. Pulau yang memiliki banyak sekali daerah wisata-wisata yang sangat menarik mata wisatawan dari lokal hingga mancanegara. Berbagai kawasan wisata sangat lengkap di Lombok, antara lain gunung; air terjun; pantai; dan kawasan wisata lainnya. Sehingga sangat memudahkan wisatawan-wisatawan lokal dan mancanegara untuk sekedar mencicipi wisata-wisata di Lombok yang sangat terkenal ini. Sejak tahun 2013 tepatnya tiga tahun yang lalu, pemerintah Nusa Tenggara Barat mencanangkan program-program berjangka pendek dan panjang untuk mengembangkan potensi-potensi wisata di Lombok. Beberapa pengembangannya meliputi pembangunan fasilitas dan infrastruktur. Pelebaran jalan merupakan salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah daerah. Program ini dimulai dari dilebarkannya jalan menuju Bandara Internasional Lombok. Sejak dibangunnya Bandara Internasional Lombok, jalanan di daerah tersebut menjadi lebih lebar. Kemudian program ini dilanjutkan di daerah Pagesangan-Labu Api karena di daerah tersebut merupakan jalur bertemunya jalan lingkar Labu Api dengan Pagesangan. Pelebaran jalan tersebut akhirnya dibuatlah bundaran yang sangat besar di pertemuan jalan antara Pagesangan – Labu Api yang tentu saja di Bundaran tersebut akan dibuat apa saya tidak tau, yang pasti akan dibangun patung atau bangunan atau sejenisnya. Terkadang pembangunan yang besar-besaran tersebut tidak diseimbangkan oleh keberlangsungan kehidupan lain selain manusia. Selayaknya anak tiri yang 
Panorama Lombok (Photo by: Yuga)

di anak tirikan oleh ibu angkatnya, lingkungan menjadi dikesampingkan oleh pemerintah daerah setempat. Hal tersebut dapat diketahui dari banyaknya pembangunan-pembangunan yang tidak berkelanjutan. Beberapa minggu yang lalu, ramai di internet pemberitaan tentang dibangunnya tulisan penanda lokasi wisata yang sangat besar di sekitar danau segara anakan. Berbagai ejekan dan cemoohan diutarakan oleh netizen dari berbagai daerah atas perbuatan yang dilakukan oleh pemerintah Nusa Tenggara Barat. Kurangnya pemahaman akan pentingnya ekosistem bagi organisme-organisme lain selain manusia serta kurangnya rasa kecintaannya terhadap bumi membuat mereka merasa sewenang-wenang terhadap bumi. Hingga akhirnya tulisan tersebut dirobohkan oleh pemerintah daerah demi menghindari hal yang tidak semestinya terjadi.
Pembangunan di Pantai (Photo by: Yuga)
Bumi, salah satu planet ketiga di tata surya sedang mengalami penyakit yang sangat berat. Global warming, penyakit yang terus saja menghantui dirinya hingga saat ini dan terus saja menggerogotinya hingga akhir hayatnya nanti. Permasalahan global warming ini bukanlah permasalahn yang sangat sepele, seluruh Negara dari belahan dunia manapun telah menyepakati melawan serta mencegah global warming. Indonesia menjadi salah satu Negara yang berusaha mencegah global warming tersebut dan Nusa Tenggara Barat berada dalam cakupannya. Berbagai macam penyebab global warming yang tentu saja pembaca mengetahui penyebabnya. Dalam melakukan tindakan pencegahan tersebut, Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat telah mencanangkan Taman Nasional Gunung Rinjani sebagai objek Geowisata dunia. Namun, apakah hal tersebut sudah mampu mengatasi dampak dari global warming ? Tentu saja belum. Seperti yang tertulis di paragraf atas, pembangunan akan terus saja menggeser fungsi ekosistem dari fungsi asalnya dimana semua organisme dapat memanfaatkannya. Selama tiga tahun ini, pembangunan di Lombok sangat cepat. Hal tersebut didukung dengan dibangunnya Lombok Epicentrum Mall dan Lombok City Center. Sebuah tempat hiburan bagi kalangan menengah ke atas dan bawah. Kesalahan strategi pembangunan yang hanya menguntungkan bagi spesies manusia saja. Efek global warming di sini sangat terasa sekali dimana suhu saat ini dapat mencapai hingga 31oC saat siang hari jam 12 ke atas. Padahal, empat tahun yang lalu suhu di sini tidak terlalu tinggi. Pengaruh global warming tersebut tentu saja tidak diimbangi dengan banyak ditanamnya pohon-pohon yang berfungsi sebagai canopy bagi manusia-manusia yang memang perlu menggunakannya.

Lombokku sayang, Lombokku malang
Sejak gedung-gedung tinggi itu tumbuh liar
Sejak kapitalis-kapitalis meraja
Demi dalih pembangunan
Perlahan-lahan mulai berubah
Tak seperti dulu
Panaslah dirimu sekarang
Rusaklah badanmu jua
Seakan terlupa dirimu sesaat
Apa mungkin mereka turut berubah?
Lihat sajalah
Tahun depan jika kita berjumpa lagi…

No comments:

Post a Comment