Sunday, March 19, 2017

Alami untuk Alam

Siapa sangka kebutuhan ekonomi yang sangat meninggi mengakibatkan manusia bertindak secara irasional. Seakan-akan hanya mementingkan kebutuhannya sendiri, semua dilibas begitu saja. Organisme merupakan suatu individu yang hidup dalam suatu habitat yang disebut dengan lingkungan hidup. Manusia merupakan salah satu organisme bersel banyak yang selalu hidup dan bergantung pada lingkungannya. Namun, dalam perkembangan zaman setelah pecahnya revolusi industri di Inggris pada abad ke-19, manusia seolah-olah melupakan keberadaannya dalam lingkungan. Berdasarkan penemuan oleh Bernard Kettlewell ditemukan kupu-kupu Biston betularia sayap berwarna hitam yang awalnya berwarna putih cerah dan menandakan ada yang tidak beres dengan kota Inggris. Tidak hanya itu, banyak penemuan yang didasarkan atas keresahan manusia akan kerusakan lingkungannya. Seperti yang dilakukan oleh Magellan pada tahun 1987 yang melakukan penelitiannya mengenai dampak kerusakan air laut terhadap keberadaan organisme air. Penelitian ini kemudian menghasilkan suatu rumusan-trumusan yang hingga saat ini dikenal oleh ilmuwan-ilmuwan biologi untuk menentukan indikator kerusakan lingkungan. Dari kacamata ekonomi, sosial, dan budaya kerusakan lingkungan selalu berkorelasi negatif dengan perkembangan masyarakat. Hal itu dapat dibuktikan dengan semakin majunya era globalisasi, maka tiga indikator tersebut akan selalu saja dilibas olehnya.
Pada masa orde baru saat kepemimpinan Soeharto dicanangkan sebuah program yang dinamakan dengan Revolusi Hijau. Revolusi hijau adalah salah satu program dari REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Salah satu bentuk dari program ini adalah memaksa petani merubah sistem tanamnya menjadi sistem tanam anorganik untuk memepercepat proses swasembada pangan. Padahal yang selama ini diketahui, petani-petani Indonesia sebelum mengenal adanya Revolusi Hijau sangat bergantung dengan alam dan lingkungannya. Ketika program ini berlangsung, pemerintah memaksa petani merubah sistem penggunaan pupuk organik menjadi pupuk anorganik. Yang selama ini saya ketahui adalah, penggunaan sistem tanam anorganik mengakibatkan dampak yang sangat hebat terhadap tanah pertanian. Penggunaan pupuk anorganik yang selalu saja melebihi batas kewajarannya mengakibatkan menumpuknya zat-zat kimia pada pada tanah sehingga mengakibatkan kematian bakteri menguntungkan pada tanah. Pada salah satu penelitian yang dilakukan di Batu, penggunaan pupuk anorganik yang tidak sesuai takaran mengakibatkan degradasi populasi bakteri yang berfungsi sebagai penyubur tanah dikarenakan terakumulasinya zat kimia secara berlebih. Terbukti sudah, saat ini tanah pertanian di daerah Batu mengalami pengerasan. Tanah yang seharusnya mudah untuk dicangkul, sangat sulit untuk dicangkul dikarenakan kurang gemburnya tanah. Akan tetapi seperti yang pernah dicantumkan oleh salah satu program kerja Walikota Batu terdahulu Eddy Rumpoko, mengatakan bahwa saat ini pemerintah kota Batu sedang berusaha untuk memurnikan kembali tanah di Batu menggunakan pupuk organik. Padahal pada salah dua daerah yang hingga saat ini menggunakan sistem tanam organik yaitu pada daerah Kepanjen dan Singosari, diperlukan waktu setidaknya dua hingga tiga tahun atau enam kali masa panen agar tanah menjadi normal kembali. Hal tersebut didasarkan atas pengakuan petani di daerah tersebut serta salah satu dosen lingkungan yang masih melanjutkan pengajarannya di Jurusan Biologi Universitas Brawijaya. Selain itu selama menunggu waktu enam kali masa panen, petani akan dirugikan secara materiil karena tanahnya yang masih beradaptasi menjadi tanah yang subur dengan pupuk organik.
Berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan mengenai pentingnya keberadaan rantai makanan, penggunaan pupuk organik saja masih dirasa belum cukup. Pada daerah persawahan, banyak sekali ditemui organisme-organisme yang sangat berperan dalam proses penyuburan tanah dan tanaman. Dapat diambil contoh, keberadaan tanaman padi sebagai produsen, wereng sebagai konsumen pertama, dan burung sebagai konsumen ketiga. Ketika penggunaan insektisida berlebihan pada saat hama wereng menyerang, maka populasi wereng akan menurun serta mengakibatkan produksi padi akan meningkat. Namun tidak dengan populasi burung yang semakin lama semakin habis dikarenakan menurunnya populasi wereng. Selain itu, pemanfaatan fungisida terhadap jamur dapat mematikan dan memperlambat proses pertumbuhan jamur yang sekaligus dapat mematikan telur wereng pada batang tanaman padi. Proses tersebut lebih dikenal dengan proses biologis.

“Sesuatu yang alami akan sangat mudah diamini oleh masyarakat dan alam, karena dirinya sudah merupakan bagian dari masyarakat trsebut.”

Kapitalisme yang Mencerdaskan

sumber: greanvillepost.com
Siapa sih yang tidak pernah mendengar kata kapitalisme ? Sudah lama sekali kapitalisme telah menjadi hal yang sangat biasa diperbincangkan di kalangan perkumpulan aktivis-aktivis yang menasbihkan dirinya sebagai seorang sosialis. Adanya penasbihan tersebut, menimbulkan ghirah atau kecurigaan yang sangat besar akan keberadaan kapitalisme. Kapitalisme selalu saja dianggap sebagai suatu paham yang salah dan dianak tirikan. Hal tersebut memang tidak terhindarkan, dalam praktek kesehariannya, kapitalisme digunakan sebagai alat propaganda bagi kaum-kaum sosialis dan juga sebagai alat bantu penghisapan.
Kapitalisme menurut Bapak Kapitalisme Dunia, Adam Smith menyebutkan dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nations bahwa kapitalisme merupakan suatu sistem pensejahteraan individu-individu untuk mendapatkan kebebasannya dalam melakukan suatu kegiatan perekonomian tanpa ada campur tangan negara. Dalam hal ini individu berhak mendapatkan hak kebebasannya untuk melakukan kegiatan perekonomian. Namun, satu hal yang perlu diketahui adalah tidak adanya campur tangan negara dalam melakukan kontrol perekonomian. Dikutip dari salah satu artikel di kompasiana yang berjudul “Memahami Kapitalisme Adam Smith” oleh August Muharram, Adam Smith menjawab semua itu dalam sistem kebebasan alamiah. Smith mengatakan:
“Tetapi manusia hampir selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya. Dia lebih besar kemungkinannya untuk menang jika dia dapat menarik kepentingan diri mereka untuk membantu dirinya. Beri apa yang saya inginkan dan anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Ini adalah makna dari pemberian” (1965:14)
Berdasarkan pernyataan Adam Smith di atas, adanya sistem kapitalisme tersebut justru memakmurkan mereka yang membutuhkan. Pada pernyataann “Tetapi manusia hampir selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya” merupakan kalimat pembuka yang digunakan oleh Adam Smith untuk menginisiasi keberpihakannya pada masyarakat yang membutuhkan. Pada pernyataan “Beri apa yang saya inginkan dan anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan”, merupakan sebuah pernyataan yang cukup halus untuk dicerna oleh seorang awam. Seperti sebuah transaksi jual-beli, dalam melakukan suatu pertolongan pernyataan tersebut sangat berkebalikan dengan rasa kemanusiaan yang ada. Sebuah pertolongan hendaknya didasarkan atas rasa welas asih dan tanpa pamrih. Pernyataan tersebut sangat bertentangan dengan apa yang banyak diajarkan oleh para pendahulu.
sumber: pinterest.com
Indonesia merupakan negara ber-Pancasila, salah satu isi sila dari Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang diperjelas dalam penerapan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang menjelaskan secara umum gambaran ekonomi Indonesia mau dibawa kemana. Salah satu penyebutan tersebut menyebutkan bahwa hal-hal apapun harus dikerjakan dalam suasana kekeluargaan. Suasana kekeluargaan seperti apa yang diharapkan ? Tentu saja suasana kekeluargaan yang saat ini sudah hilang ditelan oleh roda zaman. Banyak proses transaksi hanya mengandalkan salah satu pihak yang selalu saja menguntungkan salah satu pihak tersebut. Dalam proses transaksi perbankan, proses tersebut sudah diatur dalam sebuah Standard Operational Procedure (SOP) mengenai proses transaksi. Sebut saja adanya bunga yang notabene memang seakan-akan menguntungkan customer, namun ternyata menguntungkan pihak Bank saja. Sikap kapitalis ini merupakan salah satu bagian dari cita-cita para pemilik modal saja untuk mengontrol harga pasar.

Indonesia memiliki koperasi yang hingga saat ini masih eksis. Dikenalkan secara masif oleh Bapak Bangsa Dr. Moh. Hatta, koperasi menjadi salah satu alternatif di balik terkikisnya semangat kekeluargaan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam kegiatannya, koperasi menggunakan azas kekeluargaan dimana ketika terjadi proses transaksi antara peminjam dan pemberi pinjaman ataupun pembeli dengan penjual dapat melakukan kesepakatan antara kedua belah pihak. Dengan adanya kesepahaman tersebut, koperasi menjamin kesejahteraan anggotanya. Namun bagaimanapun sempurnanya sistem yang berjalan, dapat saja disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Dalam beberapa kasus, terkadang pemberi modal terlalu baik terhadap peminjam sehingga dalam pengembalian modal berupa uang atau sejenisnya akan selalu tersendat oleh pihak peminjam yang selalu saja menunda-nunda pengembalian. Banyak di lapangan ditemukan peminjam modal menyalahgunakan dana pinjaman yang seharusnya dijadikan modal untuk melakukan usaha namun ternyata tidak. Ya seperti itulah, derita cinta tak pernah berakhir….. Loh kok malah nyambung ke sini, hehehe…. Selamat Tidur dan Salam Persma!!!

Bayang-Bayang Sarjana Muda


Malam yang sangat mencekam
Dipeluk oleh rindunya angin malam
Menatap sebuah layar kaca berisikan tulisan penuh makna
Mengingat-ngingat apapun yang mampu tuk dikenang
Kemudia dia bertanya, bermaknakah kenangannya?
Esok pagi-pagi buta, harus menyiapkan diri
Esok pagi-pagi buta, menunggu makanan yang tak akan pernah datang
Esok pagi-pagi buta, mencoba memahami diri
Sudah bermaknakah diriku terhadap orang lain?

Pagi itu, ia memanaskan kuda besinya
Sambil mengharap hadirnya racikan kopi panas dari seseorang
Dengan tampang biasa saja, rambut disisir rapi, kemeja agak lusuh, celana hitam mengabu, serta sepatu hitam khasnya
Dengan sombongnya ia menghempaskan kuda besinya dengan sangat cepat menembus hiruk-pikuk kota
Panas, dingin, panas, dingin begitulah suasana yang ada
Dingin, panas, dingin, panas begitulah cuaca yang ada
Naik pitam sudah rupa dia, semua terjadi dengan sangat cepat seperti biasanya
Lesu, lemas, dan lunglai dirasakan
Jam tangan selalu dilihatnya, sambil mengharap belas kasih dari Boss
Jam tangan dilihatnya lagi, waktu telah menjadi karet
Tibanya, seperti biasa teriakan dari Boss menjadi panganan sehari-hari
Bukan hanya dia, namun dia, dia, dan dia lainnya juga
Lesu, lemas, dan lunglai dirasakan
Sekali lagi, ia menatap layar kaca sambil menari-narikan jemarinya di atas keyboard lusuh itu

Sorenya, jam berubah menjadi besi
Saatnya pulang, saatnya pulang…….
Semua orang tertawa bahagia tak terkecuali Boss
Sebagian lagi mengeluhkan dirinya tak bisa pulang
Sebagian lagi hanya tak ingin pulang demi berlembar-lembar kertas bergambar itu
Dia tak ingin pulang, bukan demi kertas-kertas bergambar itu
Dia hanya ingin membunuh sepinya di kantor yang membosankan itu
Sore menjadi malam, malam menjadi pagi
Rasa kantuk dan takut menyelimuti
Teringat akan kisah-kisah seram di kantor 
Membuatnya pulang pagi-pagi buta 

Rumah sederhana, hasil menabung, sayang hanya sendiri
Dengan bau khas cat yang selalu diperbarui tiap bulannya
Di kamar, ia hanya menghabiskan waktunya merehatkan badannya
Tak terasa matahari tersenyum seakan meremehkan dirinya
Seperti biasa, ia memanaskan kuda besinya
Seperti biasa juga, ia disemprot lagi oleh Boss

Dunia pasca-kuliah
Apa benar seberat dan seletih itu?

Sunday, November 13, 2016

Potensi Tersembunyi Hutan Agroforestri Songgon

Wana wisata Rawa Bayu

     Siapa yang tak mengenal Banyuwangi, kota dengan penuh kemistisan dan keanehan yang ada. Banyuwangi merupakan wilayah yang terletak di ujung jawa bagian timur, diapit oleh dua gunung (ijen dan raung) serta dua perairan (samudera hindia dan selat bali). Banyuwangi memiliki pesona keelokan dari geografisnya, salah satunya dengan banyaknya kawasan wisata religi dan non religi di sana. Rawa Bayu, salah satu kawasan wisata yang sangat terkenal di Banyuwangi. Terletak di kaki gunung Raung dan merupakan salah satu kawasan wisata yang terkenal dengan mistik dan sejarahnya. Diapit oleh hutan dan sungai yang mengalir deras dari kaki gunungnya. Dari namanya sendiri, Rawa Bayu merupakan sebuah rawa yang di kanan kirinya masih banyak ditumbuhi oleh tanaman - tanaman serta terletak di dalam hutan. Karena letaknya sendiri, kawasan ini dijadikan sebuah kawasan hutan lindung yang dilindungi oleh pemerintah dengan bantuan beberapa masyarakat sekitar. Selain itu, terdapat hutan produksi yang dikelola oleh masyarakat yang disebut dengan Hutan Agroforestri. Letak hutan ini berdekatan dengan kawasan hutan lindung, sehingga banyak masyarakat yang merasa was-was jika menanam tanaman produksi di sana. Oleh karena itulah, pemerintah bekerjasama dengan masyarakat sekitar dalam hal pengelolaan termasuk juga pada daerah wisata Rawa Bayu. 

Hutan agroforestri Songgon
     Keberadaan kawasan hutan lindung ini sangat penting dan cukup berpotensi dalam hal penyerapan karbon. Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan negara dengan luas wilayah hutan ke – 3 terbesar di dunia setelah Brazil dan Afrika. Karbon merupakan salah satu dari hasil buangan makhluk hidup (manusia dan hewan) yang tentu saja tidak berguna bagi mereka. Dan salah satu yang berpotensi sebagai penyerap yaitu tumbuhan yang tentu saja memiliki proses – proses yang sangat rumit dan panjang agar dapat menghasilkan oksigen melalui berbagai proses. Oksigen tersebut dapat digunakan oleh makhluk hidup lainnya selain tumbuhan, sehingga keberadaan tumbuhan dirasa sangat penting bagi ekosistem sekitar. Hutan, kumpulan dari berbagai tumbuhan – tumbuhan dari terkecil hingga terbesar. Hutan di kawasan hutan lindung Songgon memiliki potensi yang sangat besar sebagai penyedia cadangan karbon bagi Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya. Hutan agroforestri namanya, suatu kawasan hutan yang dapat dikelola oleh masyarakat melalui beberapa kontrak kepada pemerintah, terkhusus PERHUTANI melalui kontrak Hak Pengelolaan Hutan (HPH). Dengan adanya HPH, masayarakat sekitar hutan Songgon dapat beraktivitas seperti biasanya. Fungsi alih atau konversi lahan dari kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan agroforestri tentu saja menimbulkan beberapa perdebatan dan permasalahan, salah satunya yaitu fungsi hutan sebagai penyedia cadangan karbon. Namun, pengelolaan hutan agroforestri yang baik dan benar dapat meningkatkan kapasitas penyediaan cadangan karbon hutan. 

Tabel 1. Total biomassa antar stasiun                                 

Seperti yang terlihat pada data di atas, hutan sekunder/lindung memiliki nilai tertinggi jika dibandingkan dengan hutan agroforestri. Hairiah, dkk (2011) menjelaskan bahwa lahan yang memiliki kesuburan dan tingkat kealamian yang lebih tinggi akan memiliki jumlah cadangan karbon yang lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan hasil yang didapatkan pada penelitian. Dapat diartikan bahwa hutan sekunder memiliki tingkat kesuburan dan tingkat kealamian yang lebih tinggi dibanding dengan lokasi lainnya. Agroforestri mahoni memiliki jumlah cadangan karbon yang lebih tinggi dibanding agroforestri pinus. Ini menunjukkan agroforestri mahoni memiliki tingkat kesuburan serta kealamian yang sedikit lebih tinggi dibanding agroforestri pinus Namun, hal tersebut tidak menjadi permasalahan yang cukup serius, total biomasssa pohon dan serasah pada hutan agroforestri lebih tinggi dibandingkan dengan hutan lindung. Keragaman spesies yang sangat kurang serta pengaruh akibat dari konversi lahan, membuat hutan agroforestri memiliki total biomassa yang lebih sedikit dari hutan lindung. Terkait dengan tingginya total biomassa pohon dan serasah, hal tersebut dapat menunjukan bahwa hutan agroforestri masih memiliki potensi yang sangat tinggi dalam melakukan penyerapan karbon emisi. (gpw)

Sumber:
Hairiah K., Ekadinata A., Sari RR., Rahayu S. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon Dari Tingkat Lahan Ke Bentang Lahan Edisi Kedua. World Agroforestry Center. Bogor. 

Thursday, October 27, 2016

Pemuda di Persimpangan Jalan


Sumber : jeparaku.com   
          Jika kita mengacu pada sejarah terbentuknya pergerakan pertama bangsa Indonesia, maka akan banyak sekali penyebutan sumpah pemuda di dalamnya. Sumpah pemuda lahir pada 28 Oktober 1928 di suatu tempat nun dekat di sana, Batavia yang sekarang disebut dengan Jakarta. Tempat berbagai pemikir-pemikir revolusioner akan banyaknya tekanan-tekanan dari penjajah-penjajah yang fasis. Di tempat itulah pertemuan diadakan untuk membentuk suatu ikrar bagi pemuda-pemudi Indonesia yang memang saat itu sadar akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan. Hingga terbentuklah suatu ikrar yang hingga saat ini disebut sebagai “Sumpah Pemuda” yang isinya:
  •  Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
  •  Kami putra dan putri Indonesia mengakuberbangsa yang satu, bangsa Indonesia
  •  Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

        Dengan adanya ikrar tersebut, maka dimulailah era pergerakan revolusioner oleh penggerak-penggerak yang merupakan pemuda-pemuda dengan berbekal ilmu serta semangat juang. Delapan puluh delapan tahun berlalu sejak ikrar tersebut diucapkan, tujuh puluh satu tahun berlalu sejak proklamasi dikumandangkan. Indonesia mengalami banyak perubahan dalam berbagai segi seperti sains, ekonomi, sosial, politik, budaya, dan hokum. Semua itu dapat terjadi bukan tanpa adanya peran serta dari pemuda-pemuda masa kini dan dukungan dari kalangan tua. Namun, permasalahan-permasalah yang ada memunculkan polemik yang akan terus saja berkelanjutan. Ikrar yang harusnya terngiang-ngiang di telinga pemuda-pemuda masa kini hilang begitu saja. Rasa persatuan dan kesatuan hilang tanpa bekas oleh beberapa pemuda yang menamai dir mereka pemuda Indonesia. Persatuan merupakan suatu rasa satu jiwa antar suku, agama, ras, dan golongan. Masalah isu SARA banyak dikumandangkan oleh beberapa pihak yang ternyata berasal dari pemuda. Jika kita kilas balik mengenai sejarah sumpah pemuda, mereka bersatu teguh untuk mengalahkan penidasan. Permasalahan isu SARA bisa jadi merupakan pengalih isu yang banyak dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.  Padahal masih banyak masalah dan isu yang harusnya diselesaikan oleh pemuda itu sendiri. Suatu fenomena sangat menarik yang saya perhatikan hingga saat ini terkait dengan permasalahan yang ada di kampus biru. Masalah-masalah yang cukup menghantui, dari masalah kecil hingga masalah yang sangat besar, dari masalah pacar hingga masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT). Padahal masalah hantu kepala buntung di Gazebo Perpus, hantu perempuan di Fakultas Kedokteran, dan masih banyak masalah hantu lainnya belum diklarifikasi oleh kampus itu sendiri…. (abaikan).

Sumber : https://nadyawijanarko.wordpress.com
          Manusia memiliki sifat kompetitif dan rasa ingin tau yang sangat tinggi. Hal tersebut dapat kita lihat sendiri dari diadakannya Pemilihan Umum untuk masyarakat Indonesia dan banyak terbitnya buku, Koran, serta majalah di Indonesia. Di kampus biru, akibat sifat tersebut muncullah suatu persaingan sehat dan tidak sehat, bisa dilihat dari persaingan untuk lulus duluan atau persaingan mendapatkan kursi di atas. Persaingan siapa lulus duluan itu sehat tapi bikin iri juga yang belum lulus, lalu untuk persaingan mendapatkan kursi di atas ini apakah sehat atau tidak sehat. Terkadang untuk mendapatkannya diperlukan cara-cara yang tidak normal karena perang saja membutuhkan strategi yang tidak normal. Pemuda di persimpangan jalan, persatuan digembar-gemborkan untuk sekedar meruntuhkan penguasa yang menindas. Namun di tubuh pemuda itu sendiri, persatuan pun belum dimaknainya dengan sangat baik. KAMI SATU BRAWIJAYA!!! Merupakan salah satu jargon yang banyak digembor-gemborkan oleh pemuda-pemuda brawijaya, benarkah hal itu? Berkaca dari banyak pengalaman selama 3 tahun di kampus biru, hal tersebut tidak masuk akal. Seperti yang kita ketahui, Brawijaya dipenuhi oleh berbagai golongan-golongan yang terkadang hanya memikirkan golongan mereka sendiri dan terkadang saling menjatuhkan antar golongan. Walaupun berkumpul, berdiskusi, dan berserikat di amini oleh Undang-Undang Dasar 1945, tapi bukankah SUMPAH PEMUDA lahir dari para pemikir revolusioner yang ingin pemuda-pemuda Indonesia bersatu padu memajukan bangsa serta melawan penindasan yang hingga saat ini banyak terjadi di INDONESIA.

        Ah… mungkin percuma saja saya tuliskan di sini, karena bisa saja banyak yang mengatakan saya hanya berkeluh kesah di tulisan ini tanpa memberikan solusi yang konkrit. Tapi, bukankah saya cukup berani menuliskannya di sini?

Malang, 28 Oktober 2016