Sunday, November 13, 2016

Potensi Tersembunyi Hutan Agroforestri Songgon

Wana wisata Rawa Bayu

     Siapa yang tak mengenal Banyuwangi, kota dengan penuh kemistisan dan keanehan yang ada. Banyuwangi merupakan wilayah yang terletak di ujung jawa bagian timur, diapit oleh dua gunung (ijen dan raung) serta dua perairan (samudera hindia dan selat bali). Banyuwangi memiliki pesona keelokan dari geografisnya, salah satunya dengan banyaknya kawasan wisata religi dan non religi di sana. Rawa Bayu, salah satu kawasan wisata yang sangat terkenal di Banyuwangi. Terletak di kaki gunung Raung dan merupakan salah satu kawasan wisata yang terkenal dengan mistik dan sejarahnya. Diapit oleh hutan dan sungai yang mengalir deras dari kaki gunungnya. Dari namanya sendiri, Rawa Bayu merupakan sebuah rawa yang di kanan kirinya masih banyak ditumbuhi oleh tanaman - tanaman serta terletak di dalam hutan. Karena letaknya sendiri, kawasan ini dijadikan sebuah kawasan hutan lindung yang dilindungi oleh pemerintah dengan bantuan beberapa masyarakat sekitar. Selain itu, terdapat hutan produksi yang dikelola oleh masyarakat yang disebut dengan Hutan Agroforestri. Letak hutan ini berdekatan dengan kawasan hutan lindung, sehingga banyak masyarakat yang merasa was-was jika menanam tanaman produksi di sana. Oleh karena itulah, pemerintah bekerjasama dengan masyarakat sekitar dalam hal pengelolaan termasuk juga pada daerah wisata Rawa Bayu. 

Hutan agroforestri Songgon
     Keberadaan kawasan hutan lindung ini sangat penting dan cukup berpotensi dalam hal penyerapan karbon. Seperti yang diketahui, Indonesia merupakan negara dengan luas wilayah hutan ke – 3 terbesar di dunia setelah Brazil dan Afrika. Karbon merupakan salah satu dari hasil buangan makhluk hidup (manusia dan hewan) yang tentu saja tidak berguna bagi mereka. Dan salah satu yang berpotensi sebagai penyerap yaitu tumbuhan yang tentu saja memiliki proses – proses yang sangat rumit dan panjang agar dapat menghasilkan oksigen melalui berbagai proses. Oksigen tersebut dapat digunakan oleh makhluk hidup lainnya selain tumbuhan, sehingga keberadaan tumbuhan dirasa sangat penting bagi ekosistem sekitar. Hutan, kumpulan dari berbagai tumbuhan – tumbuhan dari terkecil hingga terbesar. Hutan di kawasan hutan lindung Songgon memiliki potensi yang sangat besar sebagai penyedia cadangan karbon bagi Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya. Hutan agroforestri namanya, suatu kawasan hutan yang dapat dikelola oleh masyarakat melalui beberapa kontrak kepada pemerintah, terkhusus PERHUTANI melalui kontrak Hak Pengelolaan Hutan (HPH). Dengan adanya HPH, masayarakat sekitar hutan Songgon dapat beraktivitas seperti biasanya. Fungsi alih atau konversi lahan dari kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan agroforestri tentu saja menimbulkan beberapa perdebatan dan permasalahan, salah satunya yaitu fungsi hutan sebagai penyedia cadangan karbon. Namun, pengelolaan hutan agroforestri yang baik dan benar dapat meningkatkan kapasitas penyediaan cadangan karbon hutan. 

Tabel 1. Total biomassa antar stasiun                                 

Seperti yang terlihat pada data di atas, hutan sekunder/lindung memiliki nilai tertinggi jika dibandingkan dengan hutan agroforestri. Hairiah, dkk (2011) menjelaskan bahwa lahan yang memiliki kesuburan dan tingkat kealamian yang lebih tinggi akan memiliki jumlah cadangan karbon yang lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan hasil yang didapatkan pada penelitian. Dapat diartikan bahwa hutan sekunder memiliki tingkat kesuburan dan tingkat kealamian yang lebih tinggi dibanding dengan lokasi lainnya. Agroforestri mahoni memiliki jumlah cadangan karbon yang lebih tinggi dibanding agroforestri pinus. Ini menunjukkan agroforestri mahoni memiliki tingkat kesuburan serta kealamian yang sedikit lebih tinggi dibanding agroforestri pinus Namun, hal tersebut tidak menjadi permasalahan yang cukup serius, total biomasssa pohon dan serasah pada hutan agroforestri lebih tinggi dibandingkan dengan hutan lindung. Keragaman spesies yang sangat kurang serta pengaruh akibat dari konversi lahan, membuat hutan agroforestri memiliki total biomassa yang lebih sedikit dari hutan lindung. Terkait dengan tingginya total biomassa pohon dan serasah, hal tersebut dapat menunjukan bahwa hutan agroforestri masih memiliki potensi yang sangat tinggi dalam melakukan penyerapan karbon emisi. (gpw)

Sumber:
Hairiah K., Ekadinata A., Sari RR., Rahayu S. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon Dari Tingkat Lahan Ke Bentang Lahan Edisi Kedua. World Agroforestry Center. Bogor. 

No comments:

Post a Comment