![]() |
| sumber: greanvillepost.com |
Siapa sih yang
tidak pernah mendengar kata kapitalisme ? Sudah lama sekali kapitalisme telah
menjadi hal yang sangat biasa diperbincangkan di kalangan perkumpulan
aktivis-aktivis yang menasbihkan dirinya sebagai seorang sosialis. Adanya
penasbihan tersebut, menimbulkan ghirah atau kecurigaan yang sangat besar akan keberadaan
kapitalisme. Kapitalisme selalu saja dianggap sebagai suatu paham yang salah
dan dianak tirikan. Hal tersebut memang tidak terhindarkan, dalam praktek
kesehariannya, kapitalisme digunakan sebagai alat propaganda bagi kaum-kaum
sosialis dan juga sebagai alat bantu penghisapan.
Kapitalisme menurut
Bapak Kapitalisme Dunia, Adam Smith menyebutkan dalam bukunya yang berjudul The
Wealth of Nations bahwa kapitalisme merupakan suatu sistem pensejahteraan
individu-individu untuk mendapatkan kebebasannya dalam melakukan suatu kegiatan
perekonomian tanpa ada campur tangan negara. Dalam hal ini individu berhak
mendapatkan hak kebebasannya untuk melakukan kegiatan perekonomian. Namun, satu
hal yang perlu diketahui adalah tidak adanya campur tangan negara dalam
melakukan kontrol perekonomian. Dikutip dari salah satu artikel di kompasiana
yang berjudul “Memahami Kapitalisme Adam Smith” oleh August Muharram, Adam
Smith menjawab semua itu dalam sistem kebebasan alamiah. Smith mengatakan:
“Tetapi manusia hampir selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya. Dia lebih besar kemungkinannya untuk menang jika dia dapat menarik kepentingan diri mereka untuk membantu dirinya. Beri apa yang saya inginkan dan anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Ini adalah makna dari pemberian” (1965:14)
Berdasarkan
pernyataan Adam Smith di atas, adanya sistem kapitalisme tersebut justru
memakmurkan mereka yang membutuhkan. Pada pernyataann “Tetapi manusia hampir
selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya” merupakan kalimat pembuka
yang digunakan oleh Adam Smith untuk menginisiasi keberpihakannya pada
masyarakat yang membutuhkan. Pada pernyataan “Beri apa yang saya inginkan dan
anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan”, merupakan sebuah pernyataan yang
cukup halus untuk dicerna oleh seorang awam. Seperti sebuah transaksi
jual-beli, dalam melakukan suatu pertolongan pernyataan tersebut sangat
berkebalikan dengan rasa kemanusiaan yang ada. Sebuah pertolongan hendaknya
didasarkan atas rasa welas asih dan tanpa pamrih. Pernyataan tersebut sangat
bertentangan dengan apa yang banyak diajarkan oleh para pendahulu.
![]() |
| sumber: pinterest.com |
Indonesia merupakan
negara ber-Pancasila, salah satu isi sila dari Pancasila yaitu Keadilan Sosial
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang diperjelas dalam penerapan Undang-Undang Dasar
1945 Pasal 33 yang menjelaskan secara umum gambaran ekonomi Indonesia mau
dibawa kemana. Salah satu penyebutan tersebut menyebutkan bahwa hal-hal apapun
harus dikerjakan dalam suasana kekeluargaan. Suasana kekeluargaan seperti apa
yang diharapkan ? Tentu saja suasana kekeluargaan yang saat ini sudah hilang
ditelan oleh roda zaman. Banyak proses transaksi hanya mengandalkan salah satu
pihak yang selalu saja menguntungkan salah satu pihak tersebut. Dalam proses
transaksi perbankan, proses tersebut sudah diatur dalam sebuah Standard Operational Procedure (SOP)
mengenai proses transaksi. Sebut saja adanya bunga yang notabene memang
seakan-akan menguntungkan customer,
namun ternyata menguntungkan pihak Bank saja. Sikap kapitalis ini merupakan
salah satu bagian dari cita-cita para pemilik modal saja untuk mengontrol harga
pasar.
Indonesia
memiliki koperasi yang hingga saat ini masih eksis. Dikenalkan secara masif
oleh Bapak Bangsa Dr. Moh. Hatta, koperasi menjadi salah satu alternatif di
balik terkikisnya semangat kekeluargaan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam kegiatannya,
koperasi menggunakan azas kekeluargaan dimana ketika terjadi proses transaksi
antara peminjam dan pemberi pinjaman ataupun pembeli dengan penjual dapat
melakukan kesepakatan antara kedua belah pihak. Dengan adanya kesepahaman
tersebut, koperasi menjamin kesejahteraan anggotanya. Namun bagaimanapun sempurnanya
sistem yang berjalan, dapat saja disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung
jawab. Dalam beberapa kasus, terkadang pemberi modal terlalu baik terhadap
peminjam sehingga dalam pengembalian modal berupa uang atau sejenisnya akan
selalu tersendat oleh pihak peminjam yang selalu saja menunda-nunda
pengembalian. Banyak di lapangan ditemukan peminjam modal menyalahgunakan dana
pinjaman yang seharusnya dijadikan modal untuk melakukan usaha namun ternyata tidak.
Ya seperti itulah, derita cinta tak pernah berakhir….. Loh kok malah nyambung
ke sini, hehehe…. Selamat Tidur dan Salam Persma!!!


No comments:
Post a Comment