Sunday, March 19, 2017

Kapitalisme yang Mencerdaskan

sumber: greanvillepost.com
Siapa sih yang tidak pernah mendengar kata kapitalisme ? Sudah lama sekali kapitalisme telah menjadi hal yang sangat biasa diperbincangkan di kalangan perkumpulan aktivis-aktivis yang menasbihkan dirinya sebagai seorang sosialis. Adanya penasbihan tersebut, menimbulkan ghirah atau kecurigaan yang sangat besar akan keberadaan kapitalisme. Kapitalisme selalu saja dianggap sebagai suatu paham yang salah dan dianak tirikan. Hal tersebut memang tidak terhindarkan, dalam praktek kesehariannya, kapitalisme digunakan sebagai alat propaganda bagi kaum-kaum sosialis dan juga sebagai alat bantu penghisapan.
Kapitalisme menurut Bapak Kapitalisme Dunia, Adam Smith menyebutkan dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nations bahwa kapitalisme merupakan suatu sistem pensejahteraan individu-individu untuk mendapatkan kebebasannya dalam melakukan suatu kegiatan perekonomian tanpa ada campur tangan negara. Dalam hal ini individu berhak mendapatkan hak kebebasannya untuk melakukan kegiatan perekonomian. Namun, satu hal yang perlu diketahui adalah tidak adanya campur tangan negara dalam melakukan kontrol perekonomian. Dikutip dari salah satu artikel di kompasiana yang berjudul “Memahami Kapitalisme Adam Smith” oleh August Muharram, Adam Smith menjawab semua itu dalam sistem kebebasan alamiah. Smith mengatakan:
“Tetapi manusia hampir selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya. Dia lebih besar kemungkinannya untuk menang jika dia dapat menarik kepentingan diri mereka untuk membantu dirinya. Beri apa yang saya inginkan dan anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Ini adalah makna dari pemberian” (1965:14)
Berdasarkan pernyataan Adam Smith di atas, adanya sistem kapitalisme tersebut justru memakmurkan mereka yang membutuhkan. Pada pernyataann “Tetapi manusia hampir selalu punya kesempatan untuk membantu saudaranya” merupakan kalimat pembuka yang digunakan oleh Adam Smith untuk menginisiasi keberpihakannya pada masyarakat yang membutuhkan. Pada pernyataan “Beri apa yang saya inginkan dan anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan”, merupakan sebuah pernyataan yang cukup halus untuk dicerna oleh seorang awam. Seperti sebuah transaksi jual-beli, dalam melakukan suatu pertolongan pernyataan tersebut sangat berkebalikan dengan rasa kemanusiaan yang ada. Sebuah pertolongan hendaknya didasarkan atas rasa welas asih dan tanpa pamrih. Pernyataan tersebut sangat bertentangan dengan apa yang banyak diajarkan oleh para pendahulu.
sumber: pinterest.com
Indonesia merupakan negara ber-Pancasila, salah satu isi sila dari Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang diperjelas dalam penerapan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 yang menjelaskan secara umum gambaran ekonomi Indonesia mau dibawa kemana. Salah satu penyebutan tersebut menyebutkan bahwa hal-hal apapun harus dikerjakan dalam suasana kekeluargaan. Suasana kekeluargaan seperti apa yang diharapkan ? Tentu saja suasana kekeluargaan yang saat ini sudah hilang ditelan oleh roda zaman. Banyak proses transaksi hanya mengandalkan salah satu pihak yang selalu saja menguntungkan salah satu pihak tersebut. Dalam proses transaksi perbankan, proses tersebut sudah diatur dalam sebuah Standard Operational Procedure (SOP) mengenai proses transaksi. Sebut saja adanya bunga yang notabene memang seakan-akan menguntungkan customer, namun ternyata menguntungkan pihak Bank saja. Sikap kapitalis ini merupakan salah satu bagian dari cita-cita para pemilik modal saja untuk mengontrol harga pasar.

Indonesia memiliki koperasi yang hingga saat ini masih eksis. Dikenalkan secara masif oleh Bapak Bangsa Dr. Moh. Hatta, koperasi menjadi salah satu alternatif di balik terkikisnya semangat kekeluargaan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam kegiatannya, koperasi menggunakan azas kekeluargaan dimana ketika terjadi proses transaksi antara peminjam dan pemberi pinjaman ataupun pembeli dengan penjual dapat melakukan kesepakatan antara kedua belah pihak. Dengan adanya kesepahaman tersebut, koperasi menjamin kesejahteraan anggotanya. Namun bagaimanapun sempurnanya sistem yang berjalan, dapat saja disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Dalam beberapa kasus, terkadang pemberi modal terlalu baik terhadap peminjam sehingga dalam pengembalian modal berupa uang atau sejenisnya akan selalu tersendat oleh pihak peminjam yang selalu saja menunda-nunda pengembalian. Banyak di lapangan ditemukan peminjam modal menyalahgunakan dana pinjaman yang seharusnya dijadikan modal untuk melakukan usaha namun ternyata tidak. Ya seperti itulah, derita cinta tak pernah berakhir….. Loh kok malah nyambung ke sini, hehehe…. Selamat Tidur dan Salam Persma!!!

No comments:

Post a Comment